Pengaruh Status Gizi Terhadap Kejadian Premenstrual Syndrome Di Pesantren Kumi Kota Tarakan Tahun 2021

  • Nur Indah Noviyati Universitas Borneo Tarakan

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Perubahan yang terjadi pada masa ini, jelas sudah terlihat secara fisik maupun psikolgis (Sarlito W, 2010). Pada masa ini, tidak hanya terjadi pertumbuhan menjadi lebih besar, tetapi juga terjadi perekembangan secara reproduksi. Masa remaja merupakan masa dimana pertama kali seseorang mengalamitanda-tanda seksual sekunder hingga terjadi kematangan se  cara seksual. Kematangan primer terdiri dari (produksi sel telur/sel sperma), kematangan sekunder seperti tumbuhnya rambut-rambut halus pada bagian kemaluan, dan lain-lain.Pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja dipengaruhi oleh hormone seksual. Salah satu tanda masa remaja adalah terjadinya menstruasi pada remaja putri. Memasuki masa remaja putri beebrapa hormone khususnya hormone estrogen dan progesterone mulai berperan aktif dalam pembentukan tubuh remaja putri contohnya pada bagian payudara, dan pinggu yang mulai melebar. Perkembangan globalisasi yang begitu pesat mengakibatkan pengaruh terhadap gaya hidup, pola makan, dan pengetahuan gizi yang tidak tepat mengakibatkan pola asupan gizi menjadi salah. Padahal seyogyanya remaja membutuhkan gizi yang cukup agar pertumbuhan dan perkembanganya dapat optimal, hal ini dikarenakan pada masa transisi mereka mengalami pertumbuhan yang begitu cepat. Remaja putri memiliki perhatian yang cukup serius terhadap fungsi organ reproduksinya, khususnya pada masa menstruasi yang memerlukan perhatian gizi ekstra. Ketidak seimbanagn hormone progesterone danprogesterone, kelebihan aldosterone, hipoglikemia dan hhyperprolaktinemia merupakan teori-teori penyebab PMS. Salah satu metode yang digunakan dalam mengobati PMS dan PMDD (Premenstrual disorder disease) yaitu dengan menargetkan sumbu hipotalamus-hipofisis ovarium dan menargetkan serotonin,  adapun intervensi yang diberikan dengan menghentikan siklus ovarium dan melepaskan hormone gonadotropin (GnRH) atau memberikan estradiol (Yonkers et al., 2008).

Published
2022-09-30